Sabtu, 02 Juni 2012

Analisis Konteks dan Karakteristik Siswa

Analisis konteks adalah dokumen yang diterbitkan oleh satuan pendidikan yang menggambarkan serangkaian kinerja awal satuan pendidikan dalam rangka memahami, mempersepsikan melalui kegiatan analisis terhadap Standar Nasional Pendidikan, Satuan Pendidikan, dan Lingkungan Satuan Pendidikan.
Selain melakukan analisis tujuan pembelajaran, hal penting yang perlu dilakukan dalam menerapkan model ini adalah analisis terhadap karakteristik siswa yang akan belajar dan konteks pembelajaran. Kedua langkah ini dapat dilakukan secara bersamaan atau paralel.
Analisis konteks meliputi kondisi-kondisi terkait dengan keterampilan yang dipelajari oleh siswa dan situasi yang terkait dengan tugas yang dihadapi oleh siswa untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari. Analisis terhadap karakteristik siswa meliputi kemampuan aktual yang dimiliki oleh siswa, gaya atau prefensi cara belajar ( Learning Styles), dan sikap terhadap aktifitas belajar. Identifikasi yang akurat tentang karakteristik siswa yang akan belajar dapat membantu perancang program pembelajaran dalam memilih dan menetukan strategi pembelajaran yang akan digunakan

Mengidentifikasi Perilaku dan Karakteristik Awal Siswa

        Bagi setiap pengajar, mengetahui perilaku dan karakteristik awal siswa diperlukan dalam menyusun tujuan instruksional. Menurut Deterline (1965), teknologi instruksional merupakan aplikasi teknologi perilaku untuk menghasilkan perilaku khusus secara sistematik dalam rangka mencapai tujuan instruksional. Keadaan awal siswa yang heterogen dengan latar belakang serta kemampuan yang berbeda-beda akan jadi penghambat bagi proses pencapaian tujuan instruksional bila sejak awal pengajar tidak mengidentifikasi perilaku dan karakteristik siswa yang akan diajar.
         Perilaku awal siswa merupakan suatu kemampuan yang telah dimiliki siswa sebelum mempelajari suatu materi yang baru. Kemampuan dapat berupa pengetahuan, keterampilan atau sikap yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari. Sedangkan karakteristik awal siswa merupakan potret atau gambaran kemampuan siswa yang berkenaan dengan latar belakang siswa. Artinya, guru harus mempertimbangkan materi dan strategi yang cocok dengan apa yang dibutuhkan siswa.
         Untuk mengatasi hal ini, ada tiga pendekatan yang dapat dipilih. Pertama , siswa menyesuaikan dengan materi pelajaran, dan kedua sebaliknya, materi pelajaran disesuaikan dengan siswa  dan yang ketiga adalah pendekatan kombinasi.
Ø Pendekatan pertama, siswa menyesuaikan dengan materi pelajaran, dapat dilakukan sebagai berikut:
1.   Seleksi penerimaan awal:
a. Pada saat pendaftaran siswa diwajibkan memiliki latar belakang pendidikan yang relevan dengan   program pendidikan yang akan diambilnya.
b. Setelah memenuhi syarat pendaftaran di atas, siswa mengikuti tes masuk dalam pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan program pendidikan yang akan diambilnya.
2.   Tes dan pengelompokkan siswa:
3.   Lulus mata pelajaran prasyarat
Ø Pendekatan kedua, materi pelajaran disesuaikan dengan siswa. Pendekatan ini hampir tidak memerlukan seleksi penerimaa siswa.
Ø Pendekatan ketiga  yang mengkombinasikan kedua pendekatan diatas mempunyai ciri sebagai berikut :
1. Menyeleksi penerimaan siswa atas dasar latar belakang pendidikan atau ijazah seleksi ini biasanya lebih   besifat administratif.
2. melaksanakan tes untuk mengetahui kemampuan dan karakteristik awal siswa tes ini tidak digunakan sebagai alat menyeleksi siswa, tetapi untuk dijadikan dasar penyusunan bahan  pelajaran.
3.  Menyusun bahan instruksional yang sesuai dengan kemampuan dan karakteristik awal siswa.
4. Menggunakan sistem instruksional yang memngkinkan siswa maju menurut kecepatan dan kemampuan masing – masing.
5. Memberikan supervisi kepada siswa secara individual.
    Jadi, mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal siswa/peserta didik dan lingkungan adalah bertujuan untuk menentukan garis batas antara perilaku yang tidak perlu diajarkan dan perilaku yang harus diajarkan kepada siswa/peserta didik. Perilaku yang akan diajarkan ini kemudian dirumuskan dalam bentuk tujuan instruksional khusus atau TIK.
    Untuk melakukan kegiatan indentifikasi perilaku dan karakteristik awal siswa, maka kita harus mengetahui sumber yang dapat memberikan informasi kepada pendesain instruksional yang antara lain adalah :  1. Siswa; 2. Guru atau atasannya; 3. Pengelola pendidikan
Beberapa Komponen yang dapat dianalisis dalam kegiatan Menganalisis Karakteristik Awal Siswa meliputi:
a.    Pengalaman siswa
b.    Pengetahuan siswa
c.     Kegemaran siswa
d.    Kondisi fisik siswa
e.    Lingkungan keluarga siswa
f.     Lingkungan sosial
g.    Status sosial siswa
Teknik yang dapat digunakan dalam mengidentifikasi karakteristik awal siswa sama dengan teknik yang digunakan dalam mengidentifikasi perilaku awal, yaitu
a.    Kuesioner: bisa  berupa tes yang  berisi pertanyaan
b.    Interview: wawancara secara terstruktur
c.     Observasi: pengamatan terhadap proses pembelajaran         
d.    Tes: secara lisan atau tulisan (objektif dan essay)

Menganalisis Karakteristik Siswa dan Konteks Pembelajaran
Bentuk tujuan analsis penilaian kebutuhan adalah mengidentifikasi dan menentukan langkah-langkah spesifik untuk mencapai tujuan. Analisis tambahan yang telah digunakan untuk mengidentifikasi (1) keterampilan bawahan yang harus diberikan (2) keterampilan dasar bahwa pelajar harus termasuk di dalam kegiatan instruksi dan (2) keterampilan dasar bahwa peserta didik harus memiliki pengetahuan dasar untuk memulai instruksi.
Desainer tidak hanya harus menentukan apa yang akan diajarkan, tetapi juga memahami karakteristik peserta didik, konteks bagaimana tujuan pembelajaran, dan analisis konteks pada kemampuan siswa pada tahap akhirnya. Dalam hal ini desainer merinci dan menyusun atau membuat langkah yang tepat, mengenai apa yang akan diajarkan dan, terutama bagaimana cara mengajarkannya.
Pada suatu pendekatan mengemukakan belajar terus-menerus untuk merancang instruksi pembelajaran yang paling sesuai untuk peserta didik adalah hal penting. Namun, pengumpulan data membutuhkan biaya dan memakan waktu, dan kadang menghasilkan informasi yang sangat tidak berguna. Pendekatan lain juga mengasumsikan bahwa sebagai desainer kita cukup tahu tentang peserta didik, tanpa mengumpulkan informasi tentang mereka. Untuk beberapa desainer, ini mungkin pernyataan ini benar, tetapi untuk merancang populasi pelajar, asumsi tentang pembelajar mungkin tidak akurat dan menimbulkan masalah yang signifikan saat instruksi ini disampaikan.
Secara historis, psikologi pendidikan telah meneliti dan menyusun dari variabel perbedaan individu dan hubungan mereka dalam belajar. Studi kecerdasan dan kepribadian mengisi literatur yang ada. Membentuk perspektif desain instruksional, serta mengetahui variable makna yang signifikan untuk mempengaruhi pencapaian kelompok peserta didik yang memiliki karakteristik umum. Pada bab ini akan mengidentifikasi satu variabel dalam penelitian yang mempengaruhi cara belajar. Jika kita menggambarkan peserta didik dalam hal variabel-variabel ini, kita dapat memodifikasi strategi pembelajaran kita untuk meningkatkan pembelajaran.
Yang sama pentingnya pada saat ini, di dalam proses desain pembelajarn terdapat analisis konteks pembelajaran. Konteks di mana peserta didik akan menggunakan keterampilan yang baru diperoleh. Dalam beberapa kasus, seorang pelajar diajarkan keterampilan di kelas, menunjukkan penguasaan materi pada tes akhir, dan inilah yang menjadi tujuan akhir. Demikian juga, misalnya siswa dapat memiliki keterampilan matematika yang dipelajari tahun ini di kelas matematika tahun ke depan. Dalam situasi ini, konteks kemampuan belajar dan konteks pembelajaran pada kemampuan ini pada dasarnya sama.
Alasan lain untuk desainer untuk menganalisis peserta didik dan konteks adalah bahwa analisis ini tidak dapat dilakukan hanya dengan mengunjungi seseorang, misalnya guru. Desainer harus mengunjungi ruang kelas, fasilitas pelatihan, dan pelajar yang mengikuti pembelajaran. Hal ini menentukan melalui mengamati peserta didik akan meningkatkan pemahaman desainer. Hal tersebut berdasarkan dari apa yang diajarkan serta bagaimana akan digunakan.
Seperti tercantum dalam bab tiga, dan empat, langkah analisis instruksional dan analisis peserta didik dengan konteks sering dilakukan secara bersamaan, tetapi tidak berurutan sehingga informasi yang dikumpulkan dari masing-masing informasi tersebut berbeda dan menginformasikan hal yang lain.

1. Tujuan
a) Mengetahui karakteristik umum dari populasi atau keseluruhan siswa itu penting dipertimbangkan untuk mengembangkan pembelajaran.
b) Memahami karakteristik kontekstual pembelajarannya dengan tujuan keterampilan-keterampilanyang diharapkan dapat dilakukan.
c) Memahami karakteristik kontekstual dari pengaturan pembelajaran.
d) Untuk mencapai tujuan instruksional tertentu dan konteksnya, kemudian menjelaskan metode dan sumber untuk mendapatkan informasi tentang populasi target, pengaturan pembelajran, dan pengaturan instruksional.
e) Menganalisis dan menggambarkan karakteristik umum dari target populasi.
f) Menganalisis dan menggambarkan karakteristik kontekstual pembelajaran dan kinerja akhir serta pengaturan instruksiona.l
g) Meninjau analis pembelajaran siswa dan memahami konteks informasi kemudian merevisi seperti yang telah kita laksanakan.

2. Konsep
2.1 Analisis Pembelajar/ Analisis Siswa
Analisis pembelajar atau analisis karakteristik siswa merupakan kegiatan melakukan pengamatan, namun sebelumnya dapat mempertimbangkan siapa pembelajar untuk tepat instruksi tertentu. Kita akan merujuk pada peserta didik yang merupakan target populasi.
Kadang-kadang target populasi juga disebut sebagai tujuan sasaran atau kelompok sasaran. Hal ini disebut menggunakan deskriptor seperti usia, tingkat kelas, topik yang dipelajari, pengalaman kerja, atau posisi pekerjaan/ jabatan. Sebagai contoh, satu perlengkapan bahan mungkin ditujukan untuk suatu sistem program, kelas lima merupakan kelas tingkat membaca, kelompok menengah, atau tingkat sekolah tinggi. Contoh-contoh ini adalah jenis dari deskripsi yang biasanya tersedia untuk bahan pengajaran. Namun desainer instruksional harus memahami penjelasan umum dan lebih spesifik tentang keterampilan yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk siapa bahan yang ditujukan.
Hal ini penting untuk membuat perbedaan antara target populasi dan apa yang disebut sebagai uji coba terhadap peserta didik. Target populasi adalah representasi abstrak dari jangkauan terluas mungkin semua pengguna, seperti mahasiswa, siswa kelas desainer untuk instruksi yang akan dikembangkan. Hal ini diasumsikan bahwa uji coba peserta didik terhadap anggota target populasi.
Informasi apa yang perlu diketahui desainer tentang target populasi mereka? Informasi yang berguna yaitu (1) pengetahuan awal, (2) pengetahuan yang diperlukan suatu topik, (3) sikap terhadap materi pembelajaran dan cara penyampaian (4) motivasi akademik, (5) tingkat pendidikan dan kemampuan siswa, (6) pemilihan pembelajaran umum, (7) sikap terhadap kelompok dalam memberikan pembelajaran (8) karakteristik kelompok. Hal tersebut dirinci dengan masing-masing kategori.
1) Pengetahuan Awal
Sebelum memulai instruksi/pembelajaran, anggota populasi harus sudah menguasai keahlian tertentu (misalnya pengetahuan awal) yang terkait dengan tujuan pembelajaran. Sumber penelitian juga membahas karakteristik lain dari peserta didik, dikategorikan sebagai khusus atau umum yang mendasar, yang berhubungan dengan pengetahuan peserta didik, pengalaman, dan sikap. Ini juga mempengaruhi hasil dari pembelajaran siswa.
2) Pengetahuan Sebelumnya Tentang Suatu Topik
Pada dasarnya penting untuk menentukan apa yang sudah diketahui tentang topik yang akan diajarkan, terkadang siswa benar-benar tidak menyadari atau kurang memahami pengetahuan tentang subjek yang dipelajari. Selanjutnya, siswa hanya memahami sebagian atau kesalahpahaman tentang topik tersebut. Ketika kita mengajar, peserta didik dapat mencoba untuk menafsirkan apa mereka pahami dan yang mereka ketahui dari pembelajaran sebelumnya. Mereka membangun pengetahuan baru dengan didasari pemahaman mereka sebelumnya, karena itu, sangat penting bagi para desainer untuk menentukan jangkauan dan sifat dari pengetahuan siswa sebelumnya.
3) Sikap terhadap Isi Materi dan Cara Penyampaian
Siswa mungkin memiliki kesan atau sikap tentang topik yang akan diajarkan dan bahkan mungkin bagaimana pembelajaran akan disampaikan. Para desainer harus menentukan, dari sampel perlengkapan pembelajar, berbagai pengetahuan pengalaman sebelumnya, dan sikap terhadap isi materi yang tercakup dalam instruksi/ pembelajaran. Desainer juga harus menentukan harapan pembelajar tentang bagaimana instruksi/pembelajaran yang akan disampaikan.
4) Motivasi Akademik
Banyak pengajar mempertimbangkan tingkat motivasi pembelajar sebagai faktor yang paling penting dalam pembelajaran yang sukses. Guru mengungkapkan bahwa ketika peserta didik memiliki sedikit motivasi atau ketertarikan terhadap topik, pembelajaran tidak akan berlansung baik. Keller (1987) mengembangkan model berbagai jenis motivasi yang diperlukan untuk belajar sukses, dan ia menyarankan bagaimana menggunakan informasi ini untuk merancang pengajaran yang efektif. Model Keller disebut model ARCS (perhatian, relevansi, kepercayaan diri, dan kepuasan). Model ini akan dibahas secara rinci dalam bab tentang strategi pembelajaran; itu akan digunakan di sini untuk menunjukkan bagaimana untuk mendapatkan informasi dari peserta didik selama analisis peserta didik.
Keller menyarankan untuk menanyakan beberapa pertanyaan kepada peserta didik seperti ini: seberapa relevennkah tujuan instruksional pembelajaran ini terhadap kebutuhan siswa? Aspek-aspek apa saja yang harus dipenuhi didalamnya? Seberapa yakin siswa dapat berhasil untuk melakukan tujuan? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini akan memberikan wawasan pada target populasi dan ke arah masalah pada desain pembelajaran. Hal ini penting untuk mengetahui bagaimana peserta didik rasakan sebelum Anda merancang instruksi atau mendesain pembelajaran. Kami akan membahas implikasi dari motivasi akademik pelajar dan menjelaskan prosedur untuk mengumpulkan data motivasi setelah mempertimbangkan karakteristik yang lebih umum dari peserta didik.
5) Tingkat Pendidikan dan Kemampuan Siswa
Tentukan tingkat prestasi dan kemampuan umum peserta didik. Informasi ini akan memberikan wawasan ke dalam jenis pengalaman instruksional. Mereka mungkin memiliki kemampuan tertentu dan mungkin kemampuan mereka dapat memberikan pendekatan baru dari yang berbeda berdasarkan instruksi pembelajaran.
6) Pemilihan Cara Pembelajaran atau Pembelajaran yang disukai
Cari tahu tentang keterampilan populasi yang menjadi sasaran belajar dan pemilihan pembelajaran umum mereka untuk mencari cara baru belajar. Dalam kata lain, apakah pembelajar terpaku pada pendekatan diskusi kuliah/ceramah untuk belajar, atau mereka sukses dengan cara seminar kelas, studi kasus, kelompok kecil pembelajaran berbasis masalah? Banyak telah ditulis tentang “gaya belajar” dan menilai gaya pribadi siswa belajar sehingga pembelajaran yang dapat disesuaikan untuk efektivitas maksimum pembelajaran. Penelitian menunjukkan bahwa gaya siswa dapat diidentifikasi, tetapi gaya seperti itu sering berasal dari ekspresi pelajar berdasakan pengalaman pribadi pada sasat mendengarkan, melihat, membaca, diskusi kelompok kecil, dan sebagainya.
7) Sikap Siswa terhadap Organisasi Pelatihan atau Pendidikan
Tentukan sikap terhadap populasi sasaran kelompok saat instruksi pembelajaran. Apakah mereka pandangan, positif baik dari managemen maupun rekan-rekan mereka, atau mereka agak kurang merespon tentang kepemimpinan seseorang dan kemampuan mereka untuk pembelajaran yang sesuai? Mereka dengan sikap positif tentang kelompok dan rekan-rekan mereka yang lebih cenderung untuk menggunakan keterampilan.
8) Karakteristik Kelompok
Sebuah analisis yang cermat dari siswa akan memberikan beberapa informasi tambahan yang dapat berpengaruh dalam desain pembelajaran.
Yang pertama adalah tingkat heterogenitas atau keberagaman dalam populasi sasaran terhadap variabel-variabel penting. Jelas, mencari cara untuk memahami keragaman sangat penting. Hal ini tidak hanya menerima deskripsi mengenai peserta didik; hal ini membutuhkan interaksi dengan peserta didik untuk mengembangkan kesan dari apa yang diketahui siswa dan yang mereka butuhkan.
Variabel ini akan digunakan peserta didik untuk memilih dan mengembangkan tujuan untuk pembelajaran, dan hal tersebut akan mempengaruhi berbagai komponen dari strategi instruksional. Mereka akan membantu desainer mengembangkan strategi motivasi untuk pembelajaran dan akan menyarankan berbagai jenis contoh yang dapat digunakan untuk mengilustrasikan poin-poin tertentu, cara-cara bagaimana pembelajaran dapat (atau tidak mungkin) akan diberikan atau cara untuk membuat praktek keterampilan yang relevan bagi peserta didik .

2.2 Mengumpulkan Data untuk Analisis Pembelajar
Ada berbagai cara untuk mengumpulkan data tentang peserta didik. Salah satu metode melakukan forum diskusi atau wawancara terstruktur. Wawancara ini mungkin menghasilkan informasi yang berharga tentang pengetahuan awal peserta didik, tujuan siswa, sikap tentang isi, dan laporan individu mengenai tingkat keterampilannya. Desainer juga bisa mengamati peserta didik dalam konteks kinerja dan instruksional. Entah di situs atau menggunakan teknologi jarak, desainer bisa mengelola survei dan kuesioner untuk memperoleh informasi yang sama tentang kepentingan pembelajar, tujuan, sikap, dan keterampilan laporan diri. Selain laporan diri dan penilaian atasan, desainer bisa mengelola pretests untuk mengidentifikasi pengetahuan awal peserta didik yang sebenarnya dan pengetahuan sebelumnya dan keterampilan.

2.3 Analisis Konteks Performansi Pembelajaran
Para desainer harus memperhatikan karakteristik dari pengaturan di mana keterampilan dan pengetahuan yang akan digunakan. Instruksi atau pembelalajaran pada dasarnya harus memenuhi kebutuhan penilaian. Penilaian kebutuhan harus didasarkan pada indentifikasi kinerja masalah yang dapat diselesaikan melalui yang dapat memberikan pengarahan bagi suatu kelompok. Instruksi harus berkontribusi untuk memenuhi kebutuhan yang diidentifikasi dari peserta didik melalui keterampilan dan sikap yang digunakan pada saat proses pembelajaran. Analisa yang akurat dari konteks pembelajaran harus para desainer untuk mengembangkan pengalaman belajar yang lebih otentik, sehingga meningkatkan motivasi pembelajar, sikap relevan pada tujuan instruksional, dan menghubungkan pengetahuan dan keterampilan baru ke aplikasi kerja.
1) Pengaturan dari Manager/ Kepala Sekolah dan Supervisor/ Pengawas
Kita harus mengetahui tentang organisasi pendukung peserta didik agar mereka dapat menerima dan memahami ketika menggunakan keterampilan baru. Penelitian menunjukkan bahwa salah satu pendukung untuk keterampilan baru adalah pengaturan baru (disebut transfer pelatihan/hasil dari latihan) adalah dukungan yang diterima oleh pelajar. Jika tim, pengawas, atau rekan mengabaikan keterampilan baru yang diperoleh, maka penggunaan keterampilan baru itu akan berhenti. Jika salah satu anggota memiliki kesempatan dan memuji mengenai keterampilan-keterampilan baru dan kemudian akan terus digunakan, dan mudah-mudahan akan dapat mengatasi masalah yang diidentifikasi dalam penilaian kebutuhan dasar.
2) Ruang Lingkup Aspek Fisik
Aspek kedua dari analisis konteks adalah untuk menilai konteks fisik di mana keterampilan akan digunakan. Akan menggunakan mereka bergantung pada peralatan, fasilitas, peralatan, waktu, atau sumber daya lainnya? Informasi ini dapat digunakan untuk merancang pelatihan sehingga keterampilan dapat dipraktekkan kondisi semirip mungkin dengan yang ada pada aplikasi kerja.
3) Ruang Lingkup Aspek Sosial
Memahami konteks sosial untuk memahami keterampilan harus diterapkan. Hal ini sangat penting untuk merancang pengajaran yang efektif. Dalam menganalisis aspek sosial, beberapa pertanyaan yang berhubungan adalah sebagai berikut. Apakah peserta didik bekerja sendiri atau sebagai anggota tim? Apakah mereka bekerja secara mandiri dilapangan, atau mereka akan menyajikan ide dalam pertemuan kelompok atau mengawasi anggota lain? Apakah keterampilan yang dipelajari sudah dipahami oleh anggota lain, atau pembelajar menjadi yang pertama.
4) Hubungan Keterampilan untuk Aplikasi Kerja
Untuk memastikan bahwa keterampilan baru memenuhi kebutuhan yang diharapkan, kita harus menilai relevansi keterampilan memenuhi kebutuhan yang dapat teridentifikasi, kita harus menghubungkan keterampilan yang dipelajari oleh pembelajar sebagai hasil kerja pada aspek kinerja hasil. Hal ini menguji realitas untuk memastikan instruksi yang diberikan menjadi solusi, atau bagian dari solusi, untuk memenuhi kebutuhan awal. Desainer harus menilai kendala fisik, sosial, atau motivasi untuk digunakan pada keterampilan baru. Kendala fisik mungkin termasuk kurangnya ruang kerja, peralatan yang usang, waktu tidak memadai atau jadwal, atau anggota yang terlalu sedikit.

2.4 Mengumpulkan Data untuk Analisis Kinerja Konteks
Meskipun beberapa analisis instruksional dapat dilakukan pada proses pembelajaran, analisis konteks membutuhkan desainer untuk mengamati hasil kerja karena mereka memberikan informasi penting tidak hanya untuk masukan langsung ke hasil kerja, tetapi juga untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan desainer.
Tujuan analisis konteks harus direncanakan dengan baik di awal, dengan satu atau lebih tahapan harus dibuat. Idealnya tahapan ini harus terjadi pada waktu yang sama yaitu saat analisis instruksional dilakukan. Tempat mengenai spesifik situasi, dan beberapa proses mungkin telah diidentifikasi dalam penilaian kebutuhan.
Dilakukan kunjungan untuk mengumpulkan data dari siswa yang memiliki kemampuaan, anggota dan untuk mengamati lingkungan kerja di mana mereka memiliki keterampilan baru akan digunakan. Pengumpulan data berdasarkan pada prosedur meliputi wawancara dan observasi. Wawancara harus dilakukan dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan tertulis dan melalui situasi atau kinerja tertentu tergantung pada sifat unik dari masing-masing tempat.
Hasil
Keluaran utama dari tahap penelitian ini adalah (1) deskripsi tentang lingkungan fisik dan organisasi di mana keterampilan akan digunakan, (2) daftar faktor-faktor khusus yang dapat memfasilitasi peserta didik pada penggunaan keterampilan baru.

2.5 Analisis Konteks Pembelajaran
Ada dua aspek pada analisis konteks pembelajaran yang menentukan apa yang akan dilakukan adalah mereview tempat dimana instruksi dilakukan. 1) Kompatibilitas dari persyaratan instruksional 2) Kemampuan adaptasi untuk menstimulasikan tempat kerja. 3) kemampuan adaptasi dalam penyampaian 4) Faktor-faktor pembelajaran yang mempengaruhi rancangan pembelajaran dan penyampaiannya. Berikut ini diuraikan dengan singkat berdasarkan paragraf masing-masing.
1) Kompatibilitas dari Persyaratan Instruksional
Dalam pernyataan tujuan instruksional disiapkan pada langkah pertama dari model, yaitu alat lain yang mendukung item yang dibutuhkan untuk melakukan tujuan yang telah terdaftar. Apakah lingkungan belajar yang Anda kunjungi termasuk bagian-bagian ini? Dapatkah mereka melakukan jika mereka diberikan proses pembelajaran? Dan, yang sangat penting, apakah mereka kompatibel dengan orang-orang di tempat pembelajaran lain yang dapat digunakan untuk instruksi?
2) Kemampuan Adaptasi untuk Menstimulasikan dengan Lingkungan Kerja
Masalah lainnya adalah kompatibilitas lingkungan pada pembelajaran yaitu lingkungan kerja. Dalam pembelajaran, diupayakan untuk mensimulasikan bentuk faktor-faktor lingkungan kerja yang penting untuk kinerja dan hasil. Apakah untuk melakukannya dalam konteks pembelajaran yang ditunjuk atau ditentukan? Apa yang harus diubah atau ditambahkan?.
3) Kemampuan Adaptasi pada Penyampaian
Daftar persyaratan dari pernyataan tujuan menunjukan bahwa apa yang harus berkaitan dengan konteks pembelajaran? Yang termasuk konteks kinerja juga. Mungkin ada keterbatasan lainnya atau persyaratan yang harus diperhatikan dalam analisis. Ini terkait dengan tujuan organisasi yang telah ditempatkan pada instruksi. Tentukan apa pendekatan penyampaian dapat digunakan pada instruksional yang diusulkan.
4) Faktor-faktor Pilihan Pembelajaran Mempengaruhi Rancangan dan Penyampaian
Untuk alasan apapun keputusan diawal mungkin telah dikemukakan bahwa instruksi ini akan self-instruksional. Dalam jenis kasus ini, analisis konteks lingkungan pembelajaran menjadi sangat penting. Dalam situasi yang ideal, lokasi pembelajaran dan cara penyampaian akan diputuskan berdasarkan analisis persyaratan dan tujuan instruksional. Beberapa orang berpendapat bahwa pembelajaran tidak harus disampaikan saat individu memiliki kebutuhan itu. Ini akan disampaikan, tepat pada waktunya, di lingkungan kerja, tidak dalam kelompok pengaturan di ruang kelas.

2.6 Sekolah Umum
Sebelum menuju ke bagian ringkasan, kita perlu meninjau pelajar dan analisis konteks dari dari pandangan desainer yang akan mengembangkan instruksi untuk sekolah-sekolah umum. Desainer yang mendukung pembelajaran pelajar dan analisis lingkungan mungkin percaya bahwa mereka sudah dekat dengan sekolah umum, dan tidak perlu adanya analisis lebih lanjut. Kami mendorong Anda memperbaharui dasar pengalaman Anda dengan melakukan analisis yang diusulkan dengan peserta didik, guru, dan ruang kelas yang khas. Kami juga mendorong Anda untuk berpikir di luar buku teks yang diterima dan pendekatan kurikulum sekolah panduan untuk publik. Bahwa pendekatan telah menyebabkan kritik, hal ini mengemukakan bahwa pendidikan publik menekankan ingatan faktual pada pemahaman konseptual dan masalah buku teks dari aplikasi yang mendasar. Hal ini menyebabkan tidak hanya untuk berkurangnya motivasi siswa, tetapi juga ketidakmampuan untuk menghubungkan pembelajaran untuk aplikasi yang bermakna, yaitu situasi kehidupan nyata masalah di luar sekolah.
Analisis lain dari konteks kinerja berkaitan dengan penggunaan keterampilan dan pengetahuan di luar sekolah. Mengapa siswa belajar keterampilan ini? Apakah mereka menerapkan aplikasi di rumah atau masyarakat, dalam hobi atau kegiatn rekreasi, atau dalam kegiatan pendidikan kejuruan atau lebih tinggi? Jika demikian, hati-hati pada aplikasi kinerja konteks yang membawa mereka ke tahap strategi instruksional desain. Aplikasi ini persis apa ini diperlukan untuk meningkatkan motivasi, menyediakan konteks untuk materi baru, contoh-contoh, dan kegiatan praktek desain yang dilihat relevan dengan siswa. Pada dasarnya, kami percaya bahwa para pelajar dan langkah konteks analisis dalam model desain instruksional sama penting untuk desainer sekolah umum.

2.7 Evaluasi dan Revisi Analisis Instruksional
Kebanyakan desainer meninjau dan merevisi analisis desain sebelum instruksi materi awal dibuat. Salah satu komponen dari proses desain untuk tahap awal mencoba adalah membuat analisis instruksional. Alasan kita membahas uji coba pada bab ini ini, adalah agar uji coba dapat terjadi pada waktu yang sama saat desainer melakukan analisis pembelajaran dan konteks. Mereka menganalisis dan membawa desainer ke dalam konteks dengan peserta didik yang potensial, atau peserta didik baru, yang dapat meninjau analisis instruksional dengan desainer.
Diagram analisis instruksional menunjukkan tujuan, langkah-langkah yang diperlukan untuk tujuan, langkah-langkah yang diperlukan untuk tujuan pembelajaran, keterampilan bawahan, dan pengetahuan awal yang diperlukan. Dalam meninjau analisis Anda, pilih beberapa orang yang memiliki karakteristik target populasi.
Anda juga mungkin menjelaskan materi Anda ke pengawas di lingkungan kerja untuk mendapatkan masukan mereka. Pengawas dapat memberikan wawasan dari kedua pakar konten dan konteks-kelayakan perspektif. Masukan dari target peserta didik dan supervisor akan menandatangani proses, menulis tujuan kinerja dan penilaian, yang tergantung sepenuhnya pada informasi dari analisis instruksional.

3. Contoh
Karakteristik peserta didik dalam mengidentifikasi dan karakteristik kontekstual kinerja dan pengaturan belajar adalah langkah awal yang penting dalam merancang instruksi. Dalam bagian ini kami menggambarkan bagaimana karakteristik peserta didik, konteks kinerja konteks pembelajaran dapat digambarkan menggunakan format matriks dua dimensi.
Contoh untuk Menganalisis Konteks Pembelajaran
Kategori Informasi Sumber Data Ruang Lingkup Karakteristik Pembelajaran
1. Jumlah/sifat dari ruang lingkup
2. Ruang lingkup kompabiliti dengan kebutuhan instruksional.
3. Ruang lingkup kompabiliti dengan kebutuhan pembelajar.
4. Kelayakan pada simulasi lingkungan kerja Wawancara; Manager;
Ruang lingkup kunjungan;
Tabel. 5.3 Dick and Carey (hal.111)
5. Ringkasan
Untuk memulai tahap desain instruksional, Anda harus telah menyelesaikan atau akan bekerja pada analisis tujuan dan analisis keterampilan bawahan termasuk identifikasi pengetahuan awal. Anda juga harus memiliki ide umum tentang populasi target untuk instruksi yang akan dikembangkan.


Sumber: The Systematic Design of Instruction, Dick, Walter and Carey




Tidak ada komentar:

Posting Komentar