Senin, 18 Juni 2012

Pengembangan Tes Acuan Patokan ( Instrumen Penilaian )



1.    Konsep Tes Acuan Patokan
Konsep baru dalam pengukuran  proses pembelajaran yang berpusat pada pembelajar (learned-centered) adalah penilaian yang berpusat pada pembelajar (learner-centered assessment ). Definisi learner-centered assessment sejajar dengan definisi tradisional test acuan patokan, sebagai element inti dari pembelajaran yang didesain secara sistematis. Tipe test ini penting untuk mengevaluasi perkembangan pebelajar dan kualitas pembelajaran. Hasil dari tes acuan patokan memberikan indikasi instuktur seberapa baik pebelajar mampu mencapai setiap tujuan pembelajaran, dan mengindikasikan komponen mana dari pembelajaran yang bisa berjalan dengan baik, dan komponen mana yang perlu direvisi. Selain itu juga, tes acuan patokan memungkinkan pebelajar untuk merefleksikan diri dengan mengaplikasikan kriteria untuk menilai hasil kerja mereka sendiri.
Berhubungan dengan hal tersebut di atas  perlu dibahas bagaimana menyusun dan membangun  aspek penilaian dalam pembelajaran  yang mencakup  semua jenis kegiatan  yang digunakan untuk mengukur kemampuan  peserta didik setelah  menyelesaikan unit pembelajaran.
Penilaian acuan patokan (PAP) biasanya disebut juga criterion evaluation merupakan pengukuran yang menggunakan acuan yang berbeda. Dalam pengukuran ini siswa dikomperasikan dengan kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dalam tujuan instruksional, bukan dengan penampilan siswa yang lain. Keberhasilan dalam prosedur acuan patokan tegantung pada penguasaaan materi atas kriteria yang telah dijabarkan dalam item-item pertanyaan guna mendukung tujuan instruksional .
Dengan PAP setiap individu dapat diketahui apa yang telah dan belum dikuasainya. Bimbingan individual untuk meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran dapat dirancang, demikian pula untuk memantapkan apa yang telah dikuasainya dapat dikembangkan. Guru dan setiap peserta didik (siswa) mendapat manfaat dari adanya PAP. Pembelajaran yang menuntut pencapaian kompetensi tertentu sebagaimana diharapkan dan termuat pada kurikulum saat ini, PAP merupakan cara pandang yang harus diterapkan.
PAP juga dapat digunakan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya kurang terkontrolnya penguasaan materi, terdapat siswa yang diuntungkan atau dirugikan, dan tidak dipenuhinya nilai-nilai kelompok berdistribusi normal. PAP ini menggunakan prinsip belajar tuntas (mastery learning).
2.    Tipe Tes Acuan Patokan dan Aplikasinya
Dalam mengembangkan butir-butir tes acuan patokan, Dick and Carrey (1985) merekomendasikan empat macam tes acuan patokan, yaitu:
a. Entry behavior test
Tes ini diberikan kepada pebelajar sebelum memulai pembelajaran. Tes ini berguna untuk mengukur keterampilan syarat atau keterampilan yang harus sudah dikuasai sebelum pembelajaran dimulai. Keterampilan syarat akan muncul di bawah garis entry behavior.
b. Pre-test
Tes ini dilakukan pada awal pembelajaran untuk mengetahui apakah pebelajar sudah menguasai beberapa atau semua keterampilan yang akan diajarkan. Tujuannya adalah untuk efisiensi. Jika semua keterampilan sudah dikuasai maka tidak perlu ada pembelajaran. Namun jika hanya sebagian materi yang sudah dikuasai maka data tes ini memungkinkan desainer untuk lebih efisien. Mungkin hanya review atau pengingat yang dibutuhkan. Bila program tersebut merupakan sesuatu yang baru, maka tes inipun dapat ditiadakan. Maksud dari pretes ini bukanlah untuk menentukan nilai akhir tetapi lebih mengenal profil anak didik berkenaan.
Biasanya pretest dan entry behavior test dijadikan satu. Hasil dari tes entry behavior dapat digunakan desainer untuk mengetahui apakah pebelajar siap memulai pembelajaran, sedangkan dari hasil pretest, desainer dapat memutuskan apakah pembelajaran akan menjadi terlalu mudah untuk pebelajar.
c. Practice test
Tes ini diberikan selama siswa sedang dalam proses belajar (Uno, 2007: 28, tes tersebut tes sisipan). Tes ini berfungsi untuk melihat apakah siswa memang telah dapat menangkap apa yang sedang dibicarakan dan juga untuk membuat pebelajar lebih aktif berpartisipasi selama pembelajaran. Tes ini memungkinkan pebelajar untuk menampilkan pengetahuan dan keterampilan baru dan untuk refleksi diri sampai level berapa keterampilan dan pengetahuan mereka. Tes ini berisi keterampilan yang lebih sedikit dan lebih fokus pada materi per pertemuan daripada per unit. Hasil tes ini digunakan instruktur untuk memberikan feedback dan untuk memonitor pembelajaran.
d. Post-test
Tes ini paralel dengan pre-test. Sama dengan pre-test, post-test mengukur tujuan pembelajaran. Post-test harus menilai semua objektif dan terutama fokus pada objektif terakhir. Namun jika waktu tidak memungkinkan, maka hanya tujuan akhir dan keterampilan penting saja yang diujikan.
Post-test mungkin digunakan untuk menilai performa pebelajar dan untuk memberi kredit karena telah menyelesaikan program. Tujuan yang terutama dari tes ini adalah agar desainer dapat mengidentifikasi area pembelajaran yang tidak bisa dilakukan dengan baik. Jika pebelajar gagal dalam tes, desainer harus dapat mengidentifikasi dalam proses pembelajaran yang mana tidak dimengerti oleh siswa. Tes ini merupakan tes acuan patokan yang mencakup pengukuran semua tujuan intruksional khusus yang ada terutama tujuan intruksional yang bersifat terminal. Dengan tes ini dapat diketahui bagian-bagian mana diantara pembelajaran yang belum dicapai
Ada tiga tipe soal: (1) esai atau karangan, (2) objektif dengan ciri utama adanya satu jawaban yang dianggap benar atau terbaik, dan (3) problem matematik. Disamping itu masih juga dikenal soal-soal penampilan dan soal lisan. Ada empat format soal objektif yaitu, format A Pilihan Ganda, format B Pilihan Ganda Analisis Hubungan Antar Hal, format C Pilihan Ganda Analisis Kasus, atau format D Pilihan Ganda Komplek.
1.    Penilaian Pengetahuan
a.   Teknik Tes
Untuk menilai pengetahuan dapat kita.pergunakan pengujian sebagai berikut :
1) Teknik penilaian aspek pengenalan (recognition). Caranya dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan bentuk pilihan berganda yang menuntut siswa agar melakukan identifikasi tehtang fakta, definisi, dan contoh-contoh yang benar (correct),
2) Teknik peniiaian aspek mengingat kembali (recall). Caranya dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka-tertutup langsung untuk mengungkapkan jawaban-jawaban yang unik.
3) Teknik penilaian aspek pemahaman (komprehension). Caranya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut identifikasi terhadap pertanyaan-pertanyaan yang betul dan yang keliru, kesimpulan atau klasifikasi, dengan daftar pertanyaan menjodohkan yang berkenaan dengan konsep, contoh, aturan, penerapan, langkah dan urutan, dengan pertanyaan bentuk esai (open ended) yang menghendaki uraian, perumusan kembali dengan kata-kata sendiri, dan contoh-contoh.

b.  Bentuk tes
Penilaian terhadap aspek pengetahuan dapat dilakukan melalui tes lisan atau tes tertulis. Tes lisan hampir tidak pernah digunakan mengingat kesulitan teknis yang dirasakan dalam melaksanakannya, terutama bagi kelas yang besar. Itu sebabnya tes tertulis lebih banyak digunakan oleh guru untuk menilai pengetahuan.
Dilihat dari bentuknya, soal-soal tes tertulis dapat dikelompokkan ke dalam soal-soal bentuk uraian dan soal-soal bentuk objektif.
1)  Bentuk Uraian
a) Dalam soal-soal bentuk uraian, peserta diminta merumuskan, mengorganisasi, dan menyajikan jawabannya secara terbuka tanpa disediakan kemungkinan-kemungkinan jawaban di dalamnya. Soal-soal bentuk uraian ini dibagi pula atas soal bentuk uraian bebas dan soal bentuk uraian terbatas.
b) Dalam soal bentuk uraian bebas, tingkat kebebasan jawaban yang diminta lebih besar. Dalam soal bentuk uraian terbatas, jawaban yang diminta sudah lebih terarah seperti terlihat dalam soal-soal bentuk uraian. Jika direncanakan dengan baik, sangat tepat untuk menilai proses berpikir seseorang serta kemampuannya mengekspresikan buah pikiran. Kelemahan yang sering dirasakan dalam soal-soal bentuk uraian, terutama bentuk uraian bebas, antara lain ialah terbatasnya lingkup bahan pelajaran yang dievaluasi dan sulitnya mengoreksi (menskor) jawaban dengan objektif. Sehubungan dengan itu, dalam evaluasi hasil belajar terdapat kecenderungan untuk lebih banyak menggunakan soal bentuk uraian terbatas.
2)   Soal bentuk objektif
Soal-soal bentuk objektif merupakan tipe yang sangat populer di dalam evaluasi hasil belajar, khususnya evaluasi pada akhir suatu pelajaran. Hal ini disebabkan antara lain oleh luasnya bahan pelajaran yang dapat dicakup dalam tes dan mudahnya penskoran jawaban yang diberikan. Dalam soal-soal bentuk objektif ini dikenal bentuk jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan pilihan ganda. Kecuali bentuk jawaban singkat, dalam soal-soal bentuk objektif telah tersedia kemungkinan-kemungkinan jawaban (options) yang dapat dipilih.
3)   Jawaban singkat
Soal berituk jawaban singkat merupakan soal yang menghendaki jawaban dalam bentuk kata, ungkapan, bilangan, atau simbol yang jawabannya dapat dinilai dengan benar atau salah.
4)   Benar-salah
Soal bentuk benar-salah merupakan soal yang berisi pernyataan di mana peserta diminta untuk menilai apakah pernyataan tersebut benar atau salah.
5)   Menjodohkan
Soal bentuk menjodohkan terdiri atas dua kelompok; yaitu kelompok soal (di sebelah. kiri) dan kelompok pasangan (di sebelah kanan). Peserta dirainta menjodohkan setiap soal di sebelah kiri dengan pasangannya di sebelah kanan,
6)   Pilihan ganda
Soal bentuk pilihan ganda merupakan soal yang di dalamnya mengandung:
a)  Pokok soal (stem) berapa pertanyaan-pertanyaan yang berisi permasalahan yang ditanyakan.
b)  Options, yaitu kemungkinan-kemungkinan jawaban yang dapat dipiiih.
c)  Kunci, yaitu jawaban yang benar atau paling tepat, dan
d) Pengecoh (distractors), yaitu kemungkinan-kemungkinan jawaban yang lain di luar kunci. (Hamalik, 2009:211)
2.     Penilalan Perilaku Keterampilan
Teknik-teknik evaluasi ini dilaksanakan pada pengajaran yang mencakup evaluasi terhadap perilaku keterampilan (skilled performance), Perilaku keterampilan meliputi keterampilan-keterampilan kognitif, psikomotor, reaktif, dan interaktif.
Fungsi utama evaluasi dalarn proses pengajaran adaiah untuk memperbaiki pengajaran. Teknik dan instrumen evaluasi harus peka terhadap bagian-bagian dalam rencana pengajaran yang dapat terlaksana dan bagian-bagian yang perlu diperbaiki. Untuk memperoleh gambaran tentang hal-hal tersebut, kita perlu menguji tingkat penguasaan keterampilan perilaku para siswa.
a.   Teknik Evaluasi Keterampilan Reproduktif
1)  Aspek keterampilan kognitif, misalnya masalah-masalah yang dikenal baik untuk dipecahkan dalam rangka menentukan ukuranukuran ketepatan. dan kecepatan melalui latihan-iatihan (drill) jangka-panjang, dievaluasi dengan metode-metode objektif tertutup.
2)  Aspek keterampilan psiko.motor dievaluasi'dengan tes tindakan terhadap pelaksanaan tugas yang nyata'atau yang disimulasikaxi dan berdasarkan kriteria ketepatan, kecepatan, kualitas penerapan secara objektif. Contoh: keterampilan mengetik, keterampilan menjalankan mesin.
3)  Aspek keterampilan reaktif dievaluasi secara langsung dengan pengamatan objektif perilaku pendekatan atau penghindaran secara tak langsung dengan kuesioner sikap.
4) Aspek keterampilan interaktif dievaluasi secara langsung dengan menghitung frekuensi kebiasaan dan cara-cara yang baik yang dipertunjukkan pada kondisi-kondisi tertentu.
b.   Teknik Evaluasi Keterampilan Produktif .
1)  Aspek keterampilan kognitif, misalnya masalah-masalah yang tidak dikenal balk untuk dipecahkan dan pemecahannya tidak begitu rumit, dievaluasi dengan meriggunakan metode terbuka-tertutup (open ended methods).
2) Aspek keterampilan psikomotor, yakni tugas-tugas produktif yang menuntut perencanaan strategic dievaluasi dengan observasi dan diskusi. 
3) Aspek keterampilan reaktif dievaluasi secara langsung dengan mengamati sistem masyarakat dalam tindakannya di luar sekolah, secara tak langsung melalui analisis mengenai posisi yang diambil oleh seseorang pada waktu mengikuti debat dan masalah-masalah kunci serta argumentasi yang digunakannya.
4) Aspek keterampilan interaktif dievaluasi dengan observasi ke terampilan-keterampilan interaktif yang kompleks dalam kondisi sosial yang nyata atau yang disimulasikan, dilanjutkan dengan pertemuan untuk mernpelajari unsur perencanaan.
c.  Jenis Tes yang Digunakan
Jenis-jenis tes yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:
1) Tes persepsi
a) Keterampilan kognitif, misalnya keterampilan memahami, merumuskan, memecahkan masaiah, dan mengenali derajat kesulitan dalam suatu masalah.
b) Keterampilan psikomotor, misalnya- keterampilan mengarnati rambu-rambu  eksternal, mendiskriminasikan informasi yang relevan dari yang tak relevan.
c) Keterampilan reaktif, misalnya memperhatikan dan berminat terhadap suatu peristiwa luar, sensitif terhadap kejadian-kejadian.
d) Keterampilan interaktif, misalnya memperhatikan reaksi orang lain dan sensitif terhadap perasaan mereka.
2) Tes prasyarat yang meliputi semua kategori keterampilan, pengetahuansyarat seperti prosedur dan prinsip.
3)  Tes strategi terhadap keterampilan groduktif, misalnya mampu mengkaji masalah-masalah yang relevan, menyimpulkan strategi pemecahan dan menilainya kembali dengan cara berpikir kritis (open ended verbal test).
4)  Tes tindakan untuk mengetes:
a) Keterampilan kognitif, misalnya melakukan tugas kognitif yang memenuhi ukuran ketepatan, kecepatan, dan produktif.
b) Keterampilan psikomotor, melakukan secara terus-menerus sesuai dengan ukuran produktivitas, ketepatan, dan standar kualitas.
c) Keterampilan reaktif, misalnya aktif merespons dengan cara bermakna pada semua kesempatan.
d) Keterampilan interaktif, misalnya berinteraksi secara efektif dan sering terhadap orang lain dengan cara yang diharapkan,
5)  Observasi, yaitu mengamati semua keterampilan yang telah dirumuskan secara khusus.

3.    Penilaian Sikap
Menurut Thurstone, dalam garis besarnya, "Sikap merupakan tingkat afeksi yang positif atau negatif yang dihubungkan dengan objek psikologis. Objek psikologis sendiri mempunyai arti simbol, kalimat, slogan, orang, institusi, serta ide yang ditujukan agar orang dapat membedakan pengaruh yang positif dan negatif." Rumusan ini menunjukkan bahwa positif dapat diartikan senang sedangkan negatif berarti tidak senang atau menolak. Untuk mengetahui sikap demikian itu kita dapat melakukan observasi dengan menggunakan alat nilai tertentu.
Semua metode observasi adalah inferensial yang beraneka ragam tingkat objektivitasnya. Metode observasi yang objektif mengandung aturan-aturan tentang penugasan tentang cara menilai suatu objek dengan menggunakan urutan angka atau nilai yang sama sehingga variansinya berada pada tingkat minimum.
Skala adalah alat ukur yang menyediakan tugas tentang simbol aturan tertentu.Suatu tugas menunjuk kepada penguasaan individu tentang nomor-nomor yang saling berhubungan mengenai hal yang hendak diukur oleh skala tersebut.
a.  Jenis Skala Sikap
Ada dua jenis skala sikap, yaitu skala Likert atau summated rating scales dan skala Thurstone atau equal-appearing interval scales.
1) Skala Likert. Skala ini memuat item yang diperkirakan sama dalam sikap atau beban nilainya. Subjek merespons dengan berbagai tingkat intensitas berdasarkan rentang skala antara dua sudut yang berlawanan (ekstrem), misalnya:
·         Setuju-tidak setuju
·         Suka-tidak suka
·         Menerima-menolak
2) Skala Thurstone. Model skala ini tidak hanya menempatkan mdradu dalam rangkaian persetujuan yang mengacu kepada sikap tertentu, tetapi tiap item mengandung nilai skala yang berbeda-beda, yang masing-masing punya kekuatan untuk mendapat persetujuan dari responden. Penyusunan skala model ini lebih sulit dibandingkan dengan skala Likert.
b.  Prosedur Penyusunan Item untuk Skala Sikap
Pada garis besarnya, dalam menyusun item untuk skala perlu ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1)  Tentukan objek atau gejala apa.
2)  Rumuskan perilaku yang mengacu sikap terhadap objek atau gejala tersebut.
3)  Rumuskan karakteristik perilaku sikap itu.
4) Rincilah lebih lanjut tiap karakteristik menjadi sejumlah atribut yang lebih spesifik.
5)  Tentukan indikator penilaian terhadap setiap atribut.
6)  Susunlah perangkat item sesuai dengan indikator yang telah dirumuskan.
7) Suatu skala terdiri atas 20 sampai 30 items. Susunlah items ter sebut yang separonya dalam bentuk pernyataan positif dan separonya lagi dalam bentuk pernyataan negatif.
8) Tentukan banyak skala lima, tujuh, atau sebelas alternatif (dalam urutan yang ekstrem).
9) Tentukan bobot nilai bagi tiap skala, misalnya 4, 3, 2, 1, 0 untuk lima nilai skala sebagai dasar perhitungan kuantitatif.
Ada kesalahan yang sering terjadi di kalangan pengguna evaluasi, yaitu adanya anggapan yang menyatakan suatu tipe evaluasi lebih baik dari tipe evaluasi lainnya dalam mengukur ranah kognitif tertentu. Berbagai penelitian telah menunjukkan tidak ada perbedaan yang berarti dalam mengukur level ranah konitif yang sama. Soal esai yang baik dapat mengukur ranah kognitif seperti yang dapat diukur oleh soal objektif yang baik, atau sebaliknya, dan menghasilkan rangking subyek yang tidak berbeda. Pemilihan tipe evaluasi yang akan digunakan lebih banyak ditentukan oleh kemampuan.
Meskipun demikian tetap diakui bahwa ada kelemahan dan kelebihan dari masing-masing jenis tes yang digunakan seperti pada tabel-tabel berikut:
Keunggulan dan Kelemahan Tipe Soal Objektif (Pilihan Ganda)

Keunggulan
Kelemahan
1.  Komprehensif, karena dalam waktu singkat dapat memuat lebih banyak soal.
2.  Pemeriksaan jawaban dan pemberian nilai relatif mudah dan cepat.
3.  Efisien.
4.  Kualitas soal dapat dianalisis secara empirik.
5.  Obyektif.
6.  Umumnya memiliki reliabilitas yang memuaskan
1.  Pembuatan soal memakan banyak waktu dan tenaga.
2.  Sulit untuk mengungkap tingkat kompetensi tinggi.
3.  Ada kemungkinan jawaban benar semata-mata karena tebakan

Keunggulan dan Kelemahan Tipe Soal Tipe Esai (Karangan)

Keunggulan
Kelemahan
1.  Relatif lebih mudah dibuat.
2.  Lebih mudah digunakan untuk mengungkap tingkat kompetensi tinggi
3.  Sangat baik untuk mengungkap kemampuan yang bertalian dengan ekspresi verbal-tulis
1.  Tidak dapat memuat banyak soal sehingga kurang komprehensif
2.  Pemeriksaan jawaban menyita banyak waktu dan tenaga.
3.  Harus diperiksa sendiri oleh penulis soal atau oleh orang lain yang ahli.
4.  Sebyektivitas pemeriksaan sulit dihindari.
5.  Pertimbangan pemberian nilai lebih kompleks.
6.  Umumnya memiliki reliabiltas kurang memuaskan.

Keunggulan dan Kelemahan Tipe Benar-Salah

Keunggulan
Kelemahan
1.  Komprehensif, karena dalam waktu singkat dapat memuat lebih banyak soal.
2.  Pemeriksaan jawaban dan pemberian nilai mudah dan cepat.
3.  Efisien dan hemat bahan.
4.  Kualitas soal dapat dianalisis secara impirik.
5.  Obyektif.
6.  Mudah dibuat
1.  Hanya dapat mengungkap tingkat kompetensi rendah.
2.  Ada kemungkinan jawaban benar semata-mata karena tebakan

3.    Pengembangan Indikator Keberhasilan Belajar
Terdapat beberapa saran yang dapat membantu anda dalam menentukan berapa banyak tes item pilihan yang diperlukan. Jika tes item memerlukan sebuah format respon yang memungkinkan siswa dapat menebak jawaban dengan benar anda dapat memasukkan beberapa tes item paralel untuk tujuan yang sama jika kemungkinan menebak jawaban yang benar kecil kemungkinan, anda dapat memutuskan satu atau dua item untuk menentukan kemampuan siswa
4.    Desain dan Evaluasi Butir-Butir Tes
Pertimbangan pertama adalah menyesuaikan bidang pelajaran dengan item atau tipe tugas penilaian. Verbal information biasanya di tes dengan objectif tes. Tes bentuk objektif meliputi format seperti jawaban singkat, jawaban alternatif, mencocokkan, dan pilihan ganda.
Objektif untuk intelektual skill lebih kompleks dan biasanya menggunakan model objektif, kreasi produk atau pertunjukan langsung.
Penilaian untuk ranah afektif juga kompleks. Biasanya tidak ada cara langsung untuk mengukur tingkah laku seseorang. Penilaian di ranah ini biadanya dilakukan dengan observasi.
Penilaian ranah psikomotor biasanya dilakukan dengan mendemonstrasikan tugas. Untuk melihat apakah setiap langkah telah dilakukan dengan baik oleh pebelajar, guru membuat check-list atau rating-scale
Mengevaluasi Test dan Item Test.
Arah dan uji test item untuk tes objektif harus diujicobakan terlebih dulu sebelum digunakan untuk evaluasi formatif.  Agar tidak  terjadi kesalahan pada instrumen tes , perancang harus memastikan hal hal berikut:
1.      Arah tes jelas, sederhana, dan mudah diikuti;
2.      Masing-masing item tes jelas dan menyampaikan kepada peserta didik yang dimaksud dipembentukan atau stimulus;
3.      Kondisi-kondisi dimana dibuat tanggapan yang realistis;
4.      Metode respon jelas bagi peserta didik; dan
5.      Ruang yang tepat, waktu, dan peralatan yang tersedia .
Test item yang tidak terjawab oleh sebagian besar pelajar harus dianalisis, direvisi,  atau bahkan diganti sebelum tes diberikan lagi. Ketika membangun item tes, dan tes pada umumnya, perancang harus diingat bahwa tes mengukur kecukupan
(l) pengujian itu sendiri,
(2) bentuk tanggapan,
(3) bahan-bahan pengajaran,
(4) lingkungan pengajaran dan situasi, dan
(5) pencapaian pelajar

5.    Penentuan Tingkat Pencapaian
Peneliti yang meneliti sistem penguasaan pelajaran menyarankan bahwa penguasaan equivalent dengan level keberhasilan yang diharapkan dari pebelajar yang terbaik. Metode untuk menentukan level penguasaan menggunakan acuan norma.
Pendekatan yang kedua, bisa digunakan cara statistik. Jika desainer ingin memastikan bahwa pebelajar benar-benar mengerti ketrampilan sebelum mereka melanjutkan tahap pembelajaran selanjutnya, maka kemungkinan-kemungkinan harus disediakan untuk menampilkan ketrampilan sehingga hampir tidak mungkin keberhasilan menjadi hasil utama. Jika menggunakan soal pilihan ganda sangat mudah untuk menghitung probabilitas kesempatan keberhasilan. Dengan tipe soal yang lain, lebih sulit dilakukan penghitungan tapi lebih mudah untuk meyakinkan orang lain bahwa keberhasilan bukan sekedar kesempatan saja
6.    Penulisan Soal/Tes
Ada empat kategori tes yang berkualitas, yaitu:
a.   Berpusat pada Tujuan (Goal-Centered Criteria)
Soal tes dan penugasan harus sesuai dengan tujuan utama pembelajaran. Soal dan penugasan harus sesuai dengan perilaku termasuk konsep dan action. Untuk menyesuaikan jawaban soal tes dengan perilaku yang diharapkan dalam tujuan, desainer harus mempertimbangkan tugas belajar atau kata kerja yang ditunjukkan dalam tujuan. Butir soal harus mengukur perilaku yang sesungguhnya yang dideskripsikan dalam tujuan.
b.   Berpusat pada Pebelajar (Learner-Centered Criteria)
Tes item dan penilaian tugas harus disesuaikan dengan kharakteristik dan kebutuhan siswa, meliputi kosa kata, bahasa, tingkat kompleksitas tugas, motivasi siswa, dan tingkat ketertarikan siswa, pengalaman siswa, dan latar belakang siswa serta kebutuhan khusus siswa.
c.   Berpusat pada Kontek (Context-Centered Criteria)
Dalam membuat tes item dan penilaian tugas, desainer harus mempertimbangkan seting kinerja dan juga lingkungan belajar atau lingkungan kelas. Tes item dan tugas harus realistis atau relevan dengan seting kinerja. Kriteria ini membantu untuk memastikan transfer pengetahuan dan skill dari belajar ke dalam lingkungan kinerja.
d.   Berpusat pada Penilaian (Assessment-Centered Criteria)
Siswa akan merasa cemas selama assessment, penyusunan tes item dan penilaian tugas yang baik dapat menghilangkan rasa cemas siswa. Cetakan tes yang berkualitas meliputi kebahasaan baik, pengucapan dan tanda baca tepat dan tulisan jelas, petunjuk jelas, sumber materi dan pertanyaan jelas. Kriteria ini membantu siswa untuk melakukan dengan tenang.
Jenis-jenis Item
Pertanyaan penting lainnya adalah jenis tes item atau penilaian tugas apa yang paling baik dalam menilai kinerja siswa? Perilaku tertentu dalam objektif memberikan point-point penting terhadap jenis item atau tugas yang dapat digunakan untuk menguji perilaku.
Contoh, jika point penting yang ditanyakan kepada siswa adalah mengingat fakta, maka tanyakan kepada siswa tersebut dengan jawaban siswa yang menyatakan fakta-fakta daripada memberikan pertanyaan yang meminta reaksi siswa seperti pada pertanyaan pilihan ganda. gunakan objektif sebagai guide, dalam menyeleksi jenis tes item yang memberi kesempatan kepada siswa untuk mendemonstrasikan kinerja tertentu yang terdapat dalam objektif. Setiap jenis test items mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Untuk meyeleksi jenis tes items yang baik dari beberapa format test item yang ada, pertimbangkan beberapa faktor seperti faktor waktu yang diperlukan oleh siswa dalam memberikan respon, waktu penilaian yang diperlukan untuk menganalisis dan memutuskan jawaban, suasana ujian, dan kemungkinan dalam menebak jawaban yang benar.
Menulis Petunjuk
Test harus terdapat petunjuk yang jelas, singkat. Permulaan tes biasanya menyebabkan kecemasan pada siswa yang akan dinilai. Oleh karena itu tes seharusnya mengurangi keraguan pada pikiran siswa mengenai apa yang akan mereka kerjakan dalam menyelesaikan test.
Dibawah ini informasi petunjuk test yang biasanya ditemukan dalam test :
a.       Judul test seharusnya memberikan kesan kepada siswa mengenai content atau isi daripada kata-kata sederhana seperti Pretest atau Test I
b.      Pernyataan singkat yang menerangkan objective atau performance yang diujikan.
c.       Siswa diberitahu untuk menebak jawaban jika mereka tidak yakin dengan jawaban yang benar.
d.      Petunjuk khusus seharusnya diucapkan dengan benar.
Siswa diberitahu agar menulis nama mereka atau identitas mereka. 
Siswa seharusnya diberitahu mengenai penggunaan perlengkapan khusus dalam menyelesaikan test seperti penggunan pensil, lembar jawaban mesin, teks-teks tertentu atau perlengkapan khusus lainnya.
Bagi seorang perancang pembelajaran harus mengembangkan butir tes acuan patokan, karena hasil tes pengukuran tersebut berguna untuk:
(a). Mendiagnosis dan menempatkan dalam kurikulum;
(b). Men-checking hasil belajar dan kesalahan pengertian sehingga dapat diberikan pembelajaran remedial sebelum pembelajaran dilanjutkan;
(c).  Menjadi dokumen kemajuan belajar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar