Senin, 14 Mei 2012

Desain Model Pembelajaran Smith and Ragan


Desain Model Pembelajaran Smith and Ragan

Sebagai seorang teorektikus ulung, Smith & Ragan mencoba mengelaborasi tentang model pembelajaran pengajaran (instruction) sebagai usaha menyampaikan informasi dan kegiatan-kegiatan yang memfasilitasi pencapaian yang diinginkan oleh peserta didik berupa tujuan khusus pembelajaran (Specific Learning Goals). Banyak para ahli mengalami kerancuan terminologis antara education (pendidikan), training (pelatihan), dan teaching (pengajaran) dengan istilah instruction.

Smith dan Ragan menjelaskan istilah "education" adalah istilah yang sangat luas yang menggambarkan semua pengalaman yang di dalamnya ada proses belajar. Pengalaman tersebut bisa didapatkan melalui jalan yang tidak direncanakan, bersifat insidental dan jalur informal. Seperti pengendara mobil yang belajar mengendarai mobil di kota yang padat kendaraan melalui suatu proses coba dan salah (trial and error). Semua pengajaran (instruction) adalah bagian dari edukasi (education) karena pengajaran terdiri dari pengalaman-pengalaman yang mengarahkan pada pembelajaran (learning).
Training (pelatihan) pada umumnya dimaksudkan untuk mendeskripsikan pengalaman-pengalaman pembelajaran (instructional experiences) yang terfokus pada pencapaian keahlian yang spesifik seseorang, seperti sekolah kejuruan yang mengajarkan pada program keahlian tertentu, seperti jurusan otomotif atau bisnis manajemen. Proses training dilaksanakan oleh para siswa agar mereka mendapatkan keahlian (skill) yang memiliki kompetensi kerja.
Banyak jenis pengajaran (instruction) di dunia bisnis, militer dan pemerintahan yang dapat diistilahkan training. Hal itu karena pengalam-pengalaman yang dilangsungkan menuju pada persiapan peserta didik (learners) dengan kekhususan pada keahlian kerja. Dapat dikatakan, training adalah jenis 'instruction' pada kelas pendidikan khusus tertentu (training the instruction in certain special education)
Sedangkan 'teaching' (pengajaran) mengacu pada pembelajaran pengalaman yang segala pesan pembelajaran (the instructional message) disampaikan oleh seorang manusia-bukan oleh media pembelajaran seperti video, tape-recorder, bukan teks, atau program komputer-tetapi seorang guru yang hidup. Berarti semua pengajaran (teaching) meliputi instruction, yang ditambahkan proses transfer informasi menggunakan media pembelajaran.
Term desain (design) yang padanan kata dalam bahasa Indonesia, model atau rancangan berarti proses perencanaan sistematis yang dimaksudkan untuk mengembangkan sesuatu atau memutuskan beberapa rencana untuk menyelesaikan masalah. Seorang perancang dituntut mengetahui tingkat presisi, keakuratan, kehati-hatian, dan keahlian dalam perencanaan suatu proyek secara sistematis. Dengan demikian, Smith dan Ragan mendefinisikan model pembelajaran sebagai proses yang di dalamnya meliputi perencanaan pembelajaran yang sistematis (the process involved in the systematic planning of instruction) yaitu proses desain, pengembangan, implementasi, dan perbaikan.
Smith & Ragan mengajukan tiga langkah utama sebagai fondasi utama dalam pendekatan model pembelajaran.
Pertama, memperlihatkan secara terperinci analisis instruktional untuk menentukan "kita akan kemana" (where we're going). Kedua, mengembangkan strategi instruksional untuk menentukan "bagaimana kita akan sampai di sana" (how we'll get there). Ketiga, mengembangkan dan melaksanakan evaluasi untuk menentukan "bagaimana kita akan tahu ketika kita berada di sana" (how we'll know when we're there).
Tahapan pertama berupa analisis. Setiap proses perencanaan dalam sistem model atau bentuk pembelajaran selalu memerlukan tahapan analisis. Para perancang model pembelajaran akan mempelajari sesuatu sebanyak yang dapat mereka lakukan tentang lingkungan pendidikan, berupa analisis kondisi peserta didik yang akan dilatih, analisis tentang tugas-tugas perbaikan yang harus dipersiapkan, analisis tentang apa yang harus diketahui oleh mereka atau apa yang dapat mereka pelajari untuk membuat sistem perbaikan (evaluasi). Dalam struktur pelajaran tertentu, analisis tersebut sangat diperlukan sebelum implementasi pembelajaran.
Para perancang dapat memformulasikan suatu analisis instruksional dengan mengajukan beberapa pertanyaan: akankah pelajar dibawa pada lokasi pusat atau akankah mereka dilatih di lingkungan kerja mereka sendiri? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pelatihan? Bagaimana perasaan pelajar tentang situasi pelatihan? Bagaimana jenis pelajar yang dianggap prospektif ? Apa minat mereka? Apa jenis keahlian dan pengatahuan yang harus dikuasai untuk membuat perbaikan alat pada sistem yang baru? dsb.
Tahap kedua, Smith & Ragan mengajukan proses berikutnya, yaitu strategi pembelajaran. Ada tiga hal yang sangat dominan dalam strategi ini, yaitu pemilihan tempat, penentuan cara atau jenis kegiatan, dan pemilihan media pembelajaran. Ketiga domain tersebut akan menentukan sukses dan gagalnya desain pembelajaran. Tahap ketiga adalah evaluasi yakni direncanakan perencanaan suatu pendekatan evaluasi untuk menentukan jenis-jenis perubahan apa saja yang hendak dilakukan oleh mereka. Evaluasi yang ditawarkan Smith & Ragan berupa evaluasi formatif (Formative evaluation), dan evaluasi sumatif (summative evaluation).
 Ketiga tahapan proses ini disebut dengan model rancangan pembelajaran ( instructional design models). Apa yang ditawarkan oleh Smith & Ragan sebenarnya diambil dari teori sistem umum (general system theory), terutama pendekatan sistem pendidikan yang dikembangkan Briggs. Pendekatan Briggs dilaksanakan melalui empat komponen umum dalam model rancangan pembelajaran-analisis, desain strategi (sintesis), evaluasi, dan revisi.
Tahapan strategi pembelajaran yang dalam 'frame' Smith & Ragan dipengaruhi oleh teori komunikasi-nya Schramm tentang karakteristik jenis media yang dipilih sebagai jaringan pesan instruksional. Dalam hal pemilihan tempat atau lingkungan belajar, mereka berdua dipengaruhi oleh aliran behaviorisme yang dipelopori Ivan Davlov, tentang kondisi klasikal (classical conditioning), E.L.Thorndike-nya "hukum belajar" (the laws of learning), J.B. Watson-nya bentuk gerakan perilaku (formation of the behavioral movement), dan B.F.Sknimer-nya "keadaan yan dijalankan" (operant conditioning). Aliran ini menekankan lingkungan pembelajaran sebagai instrument utama proses pembelajaran.
Tentang strategi pembelajaran yang meliputi keadaan siswa atau siswa yang prospektif, Smith & Ragan mendasari konsepnya pada teori pembelajaran kognitif (cognitive learning theory). Berbeda dengan teori pembelajaran tingkah laku yang menempatkan lingkungan belajar sebagai instrumen utama proses pembelajaran, aliran kognitif ini menekankan pada faktor peserta didik itu sendiri. Strategi pembelajaran sangat ditentukan oleh daya stimulus dan respon peserta didik. Pelajar dipandang sebagai konstruksi makna dari pembelajaran, dibandingkan residu makna proses pembelajaran. hal.18. Selain sumbangan tentang pentingnya instrumentasi peserta didik dalam model rancangan pembelajaran Smith & Ragan, teori psikologi kognitif juga menyumbangkan dua aspek evaluasi, evaluasi penampilan peserta didik dan evaluasi belajar. Evaluasi pertama dapat diberikan tes atau ujian guna mengetahui alasan siswa, atau pencapaian pemahaman materi pelajaran. Evaluasi belajar mencakup pemakaian teknik balajar, seperti membaca-berfikir-berpidato,dsb.
Secara umum basis teori Smith & Ragan diambil dari teori instruksional yang dikembangkan oleh Bruner. Tiga tahapan proses model rancangan pembelajaran dalam buku ini mencakup aliran ini.
Analisis instruksional adalah analisis pembelajaran kontekstual. Dibutuhkan dua tahapan analisis, 1) Substansi atau pentingnya kebutuhan bagi pembelajaran di wilayah tertentu atau needs analysis atau need assessment (penilaian kebutuhan). Hal 27. Perancang melaksanakan tahapan-tahapan tersebut untuk menentukan bahwa pada kenyataannya ada suatu kebutuhan bagi pembelajaran yang baru untuk dikembangkan.
Bagaimana cara menentukan kebutuhan-kebutuhan instruksional? Smith & Ragan berpegang pada prinsip umum di dalam pengembangan bahan-bahan pembelajaran yang diperuntukkan bagi kelompok siswa tersebut. Prinsip tersebut adalah efektif, efisien, dan menarik (appealing). Prinsip efektif dipakai oleh para perancang pembelajaran demi tercapainya tujuan pembelajaran di dalam struktur kompetensi dasar. Konsep keefektivitasan harus menjiwai pola-pola atau model pembelajaran. Kita juga terjebak pada kecanggihan (shopisticated) ataupun kompleksitas sistem pembelajaran tanpa menganalisis tingkat kemudahan dan kesukaran sistem tersebut. Kemudahan dalam mengaplikasikan model pembelajaran adalah salah satu nilai efektivitas. Pada prinsip efisiensi diperlukan suatu konsep yang matang tentang pembiayaan dan waktu pelaksanaan. Pertimbangan biaya yang akan dipakai atau durasi waktu yang dibutuhkan adalah unsur yang paling dominan dalam rancangan model pembelajaran. Sedangkan prinsip daya tarik menjadi instrumen yang signifikan sebagai upaya menjembatani antara teori-teori pembelajaran yang dipakai dengan hasil utama instruksional itu.
Proses yang diperlukan untuk melaksanakan penilaian kebutuhan (needs assessment) adalah sebagai berikut:
1.    Mencatat tujuan-tujuan sistem pembelajaran. Dengan kata lain, seseorang hendaknya pertama kali menentukan : "apa yang harus dilakukan" (what ought to be), apa yang harus pelajar mampu lakukan atau ketahui pada akhir pembelajarannya. Tujuan-tujuan itu dapat dicapai hasilnya melalui pelajaran, unit kursus, semester, ujian akhir tahun, atau ujian nasional. Gambaran tersebut adalah tujuan-tujuan belajar (learning goal).
2.    Menentukan bagaimana sebaiknya tujuan-tujuan yang teridentifikasi akan dapat diraih. Setelah tahap pertama dijalankan, maka langkah berikutnya adalah bagaimana sebaiknya tujuan yang sudah dicatat tersebut dapat dicapai. Alasannya jelas, jika pelajar belajar dengan baik dan benar terhadap pembelajaran yang akan mereka dapatkan, maka tidak dibutuhkan mendesain atau mengembangkan modal pembelajaran yang baru. Dalam mencapai tujuan instruksional dapat ditentukan oleh penggunaan uji kertas dan pensil, meneliti tugas-tugas kelengkapan individu berupa pekerjaan atau keadaan yang disimulasikan (simulated situations). Penilaian diri pelajar, atau mengevaluasi hasil-hasil pelajar, seperti tingkat kesalahan dan rapor yang merupakan bagian dari pengawasan mutu pendidikan (hal.29.)
3.    Langkah berikutnya adalah menentukan gap antara "apa yang pastinya" (what is) dan "apa yang seharusnya" (what should be). Dengan kata lain, mengidentifikasi kesenjangan antara apa yang pelajar seharusnya dapat lakukan dan apa yang pastinya mereka dapat lakukan untuk setiap tujuan yang teridentifikasi. Kesenjangan jarak ini, biasanya dinyatakan dalam prosentase, misalnya : semua siswa hendaknya dapat membuat perubahan yang benar ketika diberikan biaya 10.000 rupiah, kenyataannya hanya 67 persen siswa untuk mampu melakukan perubahan dengan benar, sisanya 33 persen tidak mampu mencapai tujuan ini.
4.    Memprioritaskan kesenjangan, menurut kriteria yang telah disepakati. Apabila kesenjangan terjadi dalam banyak aspek, maka diperlukan skala prioritas mana yang harus didahulukan. Kriteria-kriteria tersebut adalah ukuran kesenjangan, pentingnya suatu tujuan, jumlah siswa yang berubah, dan peluang untuk mereduksi kesenjangan itu.
5.    Menentukan mana kesenjangan yang merupakan kebutuhan pembelajaran dan yang mana paling cocok bagi model dan pengembangan pembelajaran. Suatu kesalahan terbesar yang dilakukan perancang pembelajaran, guru, dan pendidik (educator) bahwa mereka membuat asumsi yang menganggap proses pembelajaran adalah solusi bagi semua persoalan yang muncul ke permukaan, padahal mereka menentukan solusi sebelum menganalisis secara lengkap persoalannya.
Ini adalah tamparan yang keras bagi praktisi pendidikan di Indonesia yang dengan mudahnya mendirikan sekolah-sekolah tingkat atas atau sekolah kejuruan bukan berdasarkan langkah-langkah jelas yang ditawarkan oleh Smith & Ragan. Pmerekaada umumnya tertarik mencari peluang di bidang pendidikan sebagai bentuk respon pemerintah akan merealisasikan dana pendidikan sebesar 20 persen dari total APBN.
Setelah melakukan analisis penilaian kebutuhan, para perancang pendidikan tidak lupa melakukan analisis terhadap lingkungan pembelajaran. Bagi Smith & Ragan analisis lingkungann pembelajaran meliputi:
1.    Guru bagi pendidikan kejuruan harus memiliki rentang pengalaman yang cukup, minat yang tinggi, berlatar belakang pendidikan yang sesuai, dan yang lebih disukai oleh siswa.
2.    Adanya kurikulum yang mengandung nilai filosofis, strategi-strategi aplikasi, atau teori-teori dengan lingkup dan tahapan yang jelas.
3.    Seperangkat pembelajaran (instructional hardware) yang tentunya tersedia, seperti: unit computer, overhead projectors (OHP), slide projectors, atau video play back, dll.
4.    Ruang kelas dan beberapa fasilitas pendidikan yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar. Jumlah siswa dalam setiap kelas tidak lebih dari 30 siswa, dengan jumlah rata-rata jenis kelas ideal, menurut Smith & Ragan adalah 15 sampai 20. Konsep Ragan & Smith sangat cocok dalam penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006. Rancangan ruang kelas juga harus dipikirkan oleh desainer atau developer pendidikan seperti ruang kelas dengan kursi yang dapat dipindahkan dengan mudah. Ruang kelas juga tidak boleh pada situasi gelap.
5.    Sekolah atau organisasi yang dibutuhkan sebagai tempat pembelajaran itu dilaksanakan.
6.    Lingkungan atau komunitas di sekitar sekolah atau lembaga tersebut.
Analisis terhadap penilaian kebutuhan (needs Assessment) dan lingkungan pembelajaran (learning environment) adalah conditio sine qua non bagi perancang pendidikan. Pada tataran praktis, analisis juga harus dilaksanakan pada segmentasi peserta didik, yang diposisikan sebagai instrumen paling uatama dalam mekanisme proses transfer pengetahuan dan keahlian tertentu. Ada dua alasan yang dikemukakan oleh Smith & Ragan dilaksanakannya analisis instruksional kepada para pelajar, yaitu: Pertama, banyak para siswa yang tidak mampu menggunakan perangkat lunak (software), karena sebelumnya mereka diasumsikan telah diberikan keahlian minimal tentang persamaan pembilang, padahal mereka tidak memiliki kecakapan pada keahlian ini. Kedua, beberapa siswa dilaporkan bahwa permainan yang digunakan dalam proses pembelajaran dianggap menarik, padahal sesungguhnya dapat menghinakan mereka.
Analisis tentang karakteristik pelajar yang telah diantisipasi oleh desainer, atau perancang pendidikan disebut audiens target (audience target) atau populasi target (target population). Audiens atau populasi target maksudnya adalah pengetahuan akan menjadi penting dalam skema pembelajaran apabila efektif, dan menarik di mata pelajar. Analisis pelajar tidak lagi menggunakan paradigma lama: "Apa yang seharusnya pelajar sukai atau apa yang mereka ingin ketahui (what learners should be like or what that need to know). Pendekatan baru adalah apa yang mereka suka dan apa yang mereka ketahui (what they are like and what they do know)
Analisis peserta didik yang dijadikan salah satu tahapan desain pembelajaran dapat memakai pendekatan persamaan dan perbedaan (similarities and differences approach). Pendekatan ini ditawarkan oleh Smith & Ragan sebagai bentuk kompleksitas dan pluralitas antar individu dalam komunitas pelajar. Ada empat karakteristik diri pelajar :
1.    Persamaan yang stabil diantara orang-orang yang relatif tidak berubah sepanjang waktu. Misalnya, kemampuan inderawi (sensory capacities), pemrosesan informasi (information procession), dengan tipe-tipe dan keadaan pembelajaran (types and conditions of learning). Ketiga unsur itu pada setiap individu memiliki unsure yang relatif stabil. Seperti, pandangan mata siswa terhadap objek yang berjarak lebih dari 200 kaki jauhnya. Tanpa alat bantu penglihatan maka setiap siswa semuanya memiliki kemampuan yang sama, yakni tidak mampu melihatnya. Begitu pula dengan proses pemrosesan informasi, semua siswa akan memiliki kesamaan pengalaman apabila siswa belajar terhadap informasi yang berlebihan, membingungkan, dan ketidakmampuan yang diakibatkan oleh kesalahan karakteristik pemrosesan informasi. Menurut Smith & Ragan jenis karakteristik ini disebut dengan "physiological characteristies yang mengandung tiga unsur : persepsi inderawi, kesehatan umum, dan usia.
2.    Perbedaan–perbedaan yang stabil dan relatif tidak berubah sepanjang waktu. Instrumentasi karakteristik individu pada IQ (Intelegence Quotient), gaya-gaya kognitif, karakteristik bawaan psikososial (psychosocial traits), jenis kelamin, suku, dan kelompok ras. Perbedaan nilai-nilai dasar tersebut bersifat stabil dan tidak berubah sifatnya sepanjang masa. Unsur kecerdasan adalah anugerah genetis yang telah disusun sejak dalam kandungan. Pendekatan ini disebut dengan karakteristik yang terdiri dari karakteristik umum (bakat umum & khusus tingkat perkembangan kognitif, level perkembangan bahasa, tingkat bacaan level kemampuan memperoleh informasi dari gambar, gaya pemrosesan kognitif, yang lebih disukai dan yang paling efektif strategi-strategi pembelajaran, pengetahuan tentang dunia umum), dan pengetahuan khusus sebelumya.
3.    Berubahnya perbedaan-perbedaan (changing differences) yang terdiri dari tingkatan perkembangan dan pembelajaran sebelumnya. Misalnya, pada semua tingkatan usia yang sama, mereka akan berada pada tingkatan perkembangan yang sama. Meskipun demikian, ada salah seorang siswa yang mampu mencapai tingkatan satu atau dua tahap lebih maju daripada teman sebayanya karena ada pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya. Mereka juga mencapai pada level yang berbeda karena ada nilai-nilai yang berbeda pada masing-masing individu. Pendekatan ini oleh Smith & Ragan disebut psychososial or Affective Characteristics, yang meliputi unsur-unsur minat, motivasi, motivasi untuk belajar, sikap terhadap materi pelajaran, sikap terhadap proses belajar-mengajar, persepsi dan pengalaman dengan bentuk-bentuk perantaraan tersebut, konsep jiwa akademis (academic self-concept), tingkat kecemasan, kepercayaan, dan kemauan kuat untuk sukses.
4.    Berubahnya persamaan-persamaan (changing similarities) yang mencakup dimensi proses-proses perkembangan intelektual, bahasa, psikososial, dan perkembangan moral. Pada perkembangan intelektual, setiap individu mulai kelahiran sampai kira-kira usia 18 bulan, berkembang kemampuan inderawi dan geraknya dengan sangat cepat. Pada perkembangan bahasa, ada perubahan yang terjadi pada otak manusia untuk mengikat struktur bahasa melalui inderawi manusia. Pada perkembangan kepribadian sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Sigmund Freud, Abraham Maslow, Erikson dan beberapa lainnya, bahwa setiap tingkatan berubah sesuai dengan perkembangan tingkah lakunya. Pada perkembangan moral -mengikuti teori Kohlberg- pada tingkat moralitas pra-konvensional bahwa orang menekan hasratnya karena takut terhadap hukuman. Semua karakteristik di atas mengalami perubahan-perubahan yang sama oleh setiap individu. Menurut Smith & Ragan, pendekatan ini di sebut "Social Characteristics" yang meliputi unsur hubungan kepada kelompoknya, perasaan terhadap otoritas, kecencerungan terhadap kerjasama atau persaingan, perkembangan moral, latar belakang sosio-ekonomik, dan model-model peran sosial.
Seiring dengan analisis individual, dibutuhkan pula analisis tugas pembelajaran (a learning task analysis) Langkah-langkah pelaksanaannya adalah sebagai berikut:
1.    Menuliskan tujuan instruksional yang bersifat struktural, mencakup informasi tentang tema-tema sains menurut sistem-sistem yang baik.
2.    Menentukan jenis-jenis pembelajaran dari tujuan instruksional tersebut. Implementasinya bisa berupa strategi kognitif (learning how to learn), keahlian intelektual atau pengetahuan konsep dan keahlian psikomotorik. Ada pula juga jenis tertentu yaitu tugas pembelajaran informasi verbal, menurut Anderson disebut sebagai declarative knowledge, yaitu strategi pembelajaran yang berdasarkan pemahaman dan penyebutan kembali.
3.    Melaksanakan suatu analisis pemrosesan informasi dari tujuan itu, kadangkala ketiga tahapan ini di sebut analisis tugas. Misalnya, siswa diberikan tape-recorder untuk mendapatkan informasi yang harus dituliskannya.
4.    Melaksanakan analisis pra-syarat dan melaksanakan jenis pembayarannya.
5.    Menuliskan tujuan-tujuan yang representatif bagi tujuan instruksional dan setiap persyaratannya.
Proses strategi pembelajaran dapat dilakukan dengan strategi kognitif, strategi analisis pemrosesan informasi untuk informasi verbal, atau untuk aturan prosedural atau relasional, atau untuk sebuah konsep, atau strategi untuk aturan yang lebih tinggi tatanannya, dan strategi analisis untuk penyelesaian tanpa kekerasan. Intinya, setiap strategi pembelajaran dilaksanakan untuk mencapai pada -meminjam istilah penulis- "how we'll get there".
Tahapan ketiga yang harus dilaksanakan oleh perancang adalah mengevaluasi semua pelaksanaan pembelajaran yang berlangsung sejak tindakan analisis lingkungan, pelajar, dan siswa sampai strategi pembelajaran pada tatanan implementasi. Tujuan evaluasi adalah: "to assess individual student performances and to provide information about what kind of revisions are needed in the instructional materials.
Evaluasi bertujuan untuk membandingkan kemampuan pelajar, dan menentukan tingkat kemampuan. Menurut Smith & Ragan, evaluasi terbagi dua, pertama Evaluasi Formatif dilakukan untuk mengevaluasi perangkat-perangkat pendidikan untuk mendeterminasikan kelemahan di dalam pembelajaran sehingga revisi dan di buat untuk membuat perangkat itu lebih efektif dan efisien. Ada empat tahapan dalam evaluasi formatif, yaitu: 1)review rancangan, 2)review ahli, 3)validasi pelajar, dan 4)evaluasi menerus.
Jenis evaluasi kedua adalah evaluasi sumatif (summative evaluation). Evaluasi ini dilaksanakan setelah evaluasi formatif dilaksanakan. Artinya setelah perangkat-perangkat itu telah diimplementasikan ke dalam konteks pembelajaran yang telah mereka rancang, perancang barang kali dimasukkan ke dalam proses mengevaluasi perangkat-perangkat itu dengan maksud mencari nilai untuk melengkapi data bagi pengambil keputusan yang akan mengadopsi atau melanjutkan dalam penggunaan perangkat-perangkat itu.
Instrumen penilaian yang baik dikarakterisasikan dengan tiga hal:
1.    Bersifat validitas (validity), artinya bentuk soal yang diberikan dapat diukur.
2.    Bersifat layak (reliability), artinya soal yang diberikan dapat dipertanggungjawabkan.
3.    Bersifat praktis (practicality), artinya ujian observasi, atau jawaban yang terkonstruksikan memungkinkan dapat diaplikasikan dalam kehidupan yang nyata berdasarkan pengetahuan yang mereka peroleh.
Format penilaian harus dipraktekkan oleh perancang pendidikan. Ada tiga format utama penilaian yang dapat digunakan di dalam pencapaian siswa, yaitu:
1.    Praktek kerja lapangan (on-the-job observation). Jenis penilaian ini pada umumnya digunakan pada siswa kejuruan dengan cara tujuan langsung ke lapangan.
2.    Melakukan uji coba (simulation), bentuk soal ini diberikan kepada siswa apabila pencapaian siswa dalam kehidupan nyata tidak dapat diharapkan atau diragukan keberhasilannya, maka diperlukan simulasi tertentu sebelum uji yang sebenarnya.
3.    Uji tes dengan pensil dalam kertas (pencil-and-paper test). Ada beberapa jenis soal yang masuk pada kategori ini, yaitu: pilihan ganda (multiple-choice), menentukan benar-salah (true-false), menjodohkan (matching), melengkapi atau mengisi di dalam titik-titik (completion or fill-in-the-blank), jawaban pendek (short answer), dan uraian (essay).
              Semua jenis dan segala bentuk soal atau tes haruslah berdasarkan pada cetak biru instrument (instrument blue-print), yang meliputi:
a.       Harus bersifat objektif (objective).
b.      Bentuk soal (form of items).
c.       Jumlah keseluruhan soal di dalam instrumen.
d.      Keseimbangan soal (proportionality of item).
e.       Pelaksanaan buat administrasi (direction for administration).
f.       Metode pemberian angka (scoring methods).
g.      Tingkat kesulitan soal (weighting of item).
h.      Tingkat nomor yang tidak dijawab (passing or cut of level).
              Pada strategi pembelajaran, Smith & Ragan mengemukakan empat unsur yang harus ada pada jenis strategi pembelajaran:
1.      Pendahuluan (introduction), terdiri dari:
a.    Mengaktifkan perhatian pada pelajaran (memperoleh atensi ke pelajaran).
b.    Membentuk tujuan (menginformasikan siswa tentang tujuan pembelajaran).
c.    Memunculkan minat dan motivasi (merangsang perhatian siswa).
d.   Mengulangi pelajaran yang sudah diberikan.
2.      Tubuh (body), yang terdiri dari aktivitas sebagai berikut:
a.    Menyebut kembali pengetahuan sebelumnya yang relevan.
b.    Memproses atau menghadirkan informasi dan contoh.
c.    Fokus pada perhatian.
d.   Membimbing atau menyarankan pemakaian strategi pembelajaran.
e.    Melaksanakan praktek.
f.  Evaluasi timbal balik (feed back evaluation).
3.      Kesimpulan (conclusion), terdiri dari:
a.    Meringkas dan mengulangi lagi (summarize and review)
b.    Mentransfer pembelajaran (transfer learning).
c.    Memotivasi ulang dan penutupan (remotivate and closure).
4.      Penilaian (assessment), terdiri dari:
a.    Penilai pencapaian (assess performance).
b.    Mengevaluasi timbal balik dan melaksanakan remedial.


          Dalam pelaksanaan pembelajaran, ada beberapa strategi yang dapat dilakukan:
1. Strategi Suplantif (Supplantive Strategy) yang biasanya disebut dengan mathemagenic, istilah ini dari bahasa yunani, mathe (belajar), dan genic (memberikan kelahiran pada atau melahirkan). Berarti methemagenic adalah suatu proses atau peristiwa yang menstimulasi belajar. Pada strategi pembelajaran ini, guru harus melengkapi tentang banyak kejadian yang berkaitan dengan pelajaran, memberikan informasi kepada siswa tentang keobjektivitasan pelajaran, mengulangi pelajaran secara eksplisit, dsb. "Supplantive strategy” cenderung mengasah kognisi pelajar untuk menguasai keahlian dan pengetahuan yang berkaitan dengan tugas belajar.
2. Strategi generatif (generative strategy), yang dikembangkan oleh Robert Gagne, adalah menghasilkan tujuan-tujuan edukasi mereka sendiri dengan cara mengkonstruksikan makna idiosinkratik (keistimewaan) dari dorongan yang kuat pada diri siswa melalui perkembangan cara-cara atau temuan yang sudah ada. Mereka merasa tidak puas apa yang sudah didapatkan, atau berusaha mencari terobosan baru dengan alat-alat atau media yang sebelumnya sudah dipakai atau menginginkan perangkat yang serba baru.
3. Strategi makro–organisasi (macro-organization strategies), yaitu strategi pembelajaran yang mendesain kurikulum pada level makro tentang lingkup (scope), organisasi, dan rangkaian muatan rubriknya (sequence of content). Ada lima kategori utama jenis strategi ini:
a.    Struktur yang berkaitan dengan dunia (world-related structure)
Model ini mengkorelasikan model pembelajaran dengan hal-hal yang ada di dunia yang nampak diatur-oleh waktu, ruang, dan karakteristik kebendaan. Misalnya, seorang guru mengajarkan sejarah dengan satuan pembelajaran yang disusun berdasarkan periode sejarah, maka guru itu dapat mengajarkan sejarah musik dari yang paling awal, kemudian melewati zaman pencerahan (renaisans), barok, klasik, romantis, dan periode kontemporer sampai pada saat ini. Begitu pula, guru geografi dapat mengajarkan tentang keteraturan negara-negara berdasarkan letak geografisnya.
b.    Struktur yang berkaitan dengan penyelidikan (inquiry-related structure).
Model ini menempatkan materi pelajaran disesuaikan dengan model penelitian dalam bidang pendidikan, atau riset lainnya. Seperti mengajarkan siswa mulai dari rumusan pertanyaan, mengulas bahan literatur, pernyataan hipotesis, model studi, pengumpulan data, analisis data, dan membuat kesimpulan.
c.    Struktur yang berkaitan dengan kegunaan (utilization-related structure).
Pengajaran ini berdasarkan bagaimana keahlian yang akan digunakan di waktu yang akan datang dianggap bersama-sama secara berkelompok, personal, sosial, ataupun kelompok keahlian. Di sini dibutuhkan topik-topik atau tema yang telah didesain langkah-langkahnya. Topik pertama diajarkan adalah untuk kegunaan langkah pertama dan seterusnya.
d.   Struktur yang berkaitan dengan belajar (learnig-related structure).
Model ini disebut juga prerequisite-related structure (struktur yang berkaitan dengan prasyarat). Pada prinsipnya ada satu atau beberapa informasi yang diajarkan, dan informasi atau keahlian itu menjadi prasyarat bagi kemampuan berikutnya, misalnya: seorang siswa memiliki kemampuan menggunakan sistem windows, adalah prasyarat untuk mengetahui sistem-sistem pemrogaman lainnya.
e.    Struktur yang berkaitan dengan konsep (concept-related structure).
Pada dasarnya, model pembelajaran ini dipakai berdasarkan prinsip keumuman dan kekhususan suatu materi pelajaran, konsep yang umum didahulukan pengajarannya sebelum konsep khusus, misalnya pengajaran di kelas, pada pelajaran sains, pengajaran tentang materi sebelum atom, pengajaran tentang atom sebelum listrik.
4.      Strategi untuk pelajaran pengetahuan deklaratif (declarative knowledge lesson).
Tujuan dari strategi ini adalah agar siswa memahami tentang suatu muatan pelajaran yang dapat diaplikasikan melalui informasi verbal dengan cara pembelajaran, menjelaskan (explain), menggambarkan (describe), merangkum (summarize), dan mencatat (list).
Teknik menyampaikan informasi ada 3:
a.       Teknik perumpamaan (associational technique), yang meliputi analogis dan pencitraan.
b.      Teknik organisasi (organizational technique), yang meliputi wilayah dan kategori-kategori struktur generatif eksposisi dan bersifat naratif.
c.       Teknik pembahasan (elaborative technique).
5.      Strategi untuk pelajaran-pelajaran konsep (strategies for concept learning).
Tujuannya adalah menanamkan konsep pada diri siswa sebagai salah satu keahlian intelektual (intellectual skills). Belajar yang diklasifikasikan sebagai keahlian intelektual meliputi kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan yang melewati keanekaragaman contoh: dalam lingkungan. Ada dua konsep yang perlu diajarkan, abstrak, dan kongkret. Ada dua pendekatan dalam strategi ini:
a.       Pendekatan penyelidikan (inquiry approach).
b.      Pendekatan penjabaran (expository approach).
6.      Strategi untuk pelajaran hukum (strategies for rule lesson). Ada dua jenis hukum atau aturan, yaitu hukum hubungan dan aturan prosedural. Aturan hubungan (relational rules) menggambarkan di antara dua atau lebih konsep. Hubungan ini dibentuk dalam kalimat "jika-maka" (if-then) atau hubungan sebab-akibat. Contohnya hukum Boyle, pada saat temperatur udara berada dalam keadaan tetap, jika tekanan bertambah, maka volumenya berkurang. Aturan-aturan ini menggunakan proposisi, prinsip, hukum, dalil, teorema, dan postulat, Sedangkan aturan prosedural diterjemahkan sebagai prosedur algoritma yang ada pada pelajaran matematika.
7.      Strategi untuk pelajaran penyelesaian masalah (strategies for problem solving lesson). Problem-solving dimaknai sebagai keahlian khusus yang menerapkannya melewati wilayah isi pelajaran. Problem-solving adalah kemampuan mengkombinasikan dengan jelas antara belajar hukum relasi dan prosedural, pengetahuan deklaratif, dan strategi kognitif untuk menyelesaikan masalah yang tidak dapat dielakkan.
8.      Strategi untuk pelajaran-pelajaran strategi kognitif (strategies for cognitive strategy lesson). Ada dua jenis strategi kognitif, yaitu:
a.       Strategi untuk belajar (strategy for learning).
b.      Strategi untuk berpikir (strategy for thinking). Strategi pertama (cognitive strategy for learning) adalah taktik mental dalam belajar untuk memperhatikan, mengatur, mengelaborasi, memanipulasi, dan memahami pengetahuan. Strategi kedua (cognitive strategy for thinking) adalah taktik mental yang mengarahkan pada penemuan (discovery), pengembangan (invention), dan kreativitas (creativity)
9.      Strategi pembelajaran untuk perubahan sikap, motivasi, dan minat.
Pada pembelajaran sikap yang berubah, maka dijalankan melalui tiga komponen:
a.       Komponen kognitif yang terdiri dari "mengetahui bagaimana" (knowing how). Seperti, sebelum siswa dapat mempraktekkan sikap tentang mengendarai mobil, maka siswa harus tahu bagaimana cara mengendarai mobil.
b.      Komponen tingkah laku, yaitu kenyataan menginternalisasi sikap dalam perilaku.
c.       Komponen efektif, yaitu "mengetahui mengapa" (knowing why), yaitu perlu mengendarai mobil dengan hati-hati. Dalam implementasi strategi motivasi ada empat kategori, yaitu:
1.    strategi-strategi perhatian (attention strategies), yang meliputi: ketidaksesuaian dan konflik, kejelasan (concreteness), perubahan (variability), humor, penyelidikan (inquiry), dan partisipasi (participation)
2.    Strategi-strategi yang relevan (relevance strategies), yang meliputi: pengalaman (experience), nilai saat ini (present worth), kemanfaatan di masa mendatang (future usefulness), pencocokan kebutuhan (need matching), percontohan (modelling), dan pilihan (choice).
3.    Strategi kepercayaan (confidence strategies), dengan pembelajaran-pembelajaran mempelajari persyaratan (learning requirement), kesulitan (difficulty), pengharapan (expectation), perlengkapan (attribution), dan kepercayaan diri (self confidence).
4.    Strategi kepuasan (satisfaction strategies), yang meliputi: konsekuensi alamiah (natural consequences), dan ganjaran yang tidak diharapkan (unexpected reward), dan hasil yang positif (positive outcomes), pengelakkan terhadap pengaruh yang negatif (avoidance of negative influences), dan penjadwalan (scheduling).
10.  Model atau strategi pembelajaran untuk keahlian psikomotor (designing for psychomotor skill lesson). Keahlian psikomotor adalah kecakapan mengembangkan dan menggerakkan muskular yang ada di dalam jaringan otak manusia menjadi lebih aktif, dan kemampuan berpikir secara otomatis. Ada beberapa kategori kehlian pembelajaran.
a.       Kategori keahlian psikomotor berhubungan dengan perbedaan terhadap permulaan dan akhir dari nilai keahlian. Ada dua jenis keahlian yang berlainan (discrete skills), yaitu setiap langkah yang baru atau tunggal adalah berbeda seperti: memakai kunci untuk mengunci pintu, meng-clik tombol mouse computer dll. Ada keahlian lain, keahlian berkelanjutan (continuous skills), seperti men-drible bola.
b.      Kategori keahlian psikomotor yang mencakup penentuan bagaimana keahlian itu berhubungan pada lingkungan.
c.       Kategori ketiga adalah mengklasifikasikan gerak orang atau benda.
11.  Model penyampaian dan strategi manajemen. Strategi pembelajaran ini pada intinya adalah menentukan media pembelajaran yang tersedia dan tepat untuk digunakan. Setelah membahas model-model dan strategi pembelajaran yang sangat mendalam, analisis lingkungan, analisis siswa, analisis penilaian, dan bentuk-bentuk evaluasi, maka pada bagian akhir tulisannya, Smith dan Ragan mengemukakan: "In the past decode, instructional design has been the most powerful and influential technology of instruction for the improvement of learning in school business and industry, and government/military training, etc". Begitu luar biasanya buku ini, maka sangat layak untuk dieksplorasi, diperdalami bacaan tentang strategi pembelajaran oleh pra praktisi pendidikan. Di tengah kelebihan buku ini, sangat sulit menemukan kelemahannya. Apakah anda tertarik?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar